filsafat sebagai pertanyaan diri dalam individu

REFLEKSI FILSAFAT
NAMA                         : Raizal Rezky
NIM                              : 16709251029
PRODI                         : PPS UNY Pendidikan Matematika B
DOSEN PENGAMPU : Prof. Dr. Marsigit MA.

FILSAFAT SEBAGAI PERTANYAAN DIRI DALAM DIRI INDIVIDU
Filsafat merupakan suatu ilmu olah pikir dimana kita dapat bebas berpikir tentang yang ada dan yang mungkin ada tanpa terikat ruang dan waktu. Dalam belajar filsafat sebagai individu, maka kita harus selalu menoleh atau melihat pendapat-pendapat para filsuf yang mengemukakan obyek pikirnya seperti apa, sehingga dalam pelaksanaan yang kita lakukan ada patokan terhadap diri kita tentang apa? Mengapa? dan Bagaimana?.
Dalam belajar Filsafat diperlukan pendewasaan diri untuk dapat menanggapi segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada kerena ketika kita dapat berpikir secara dewasa maka obyek pikir kita pun dapat berkembang sehingga  kita bebas dalam berpikir tidak terikat oleh ruang dan waktu yang ada, begitu pula dalam pembelajaran yang dilakukan oleh Pak Marsigit, sebagai Individu beliau, ketika ingin memulai pembelajaran beliau mengajak kami untuk selalu berdoa karena antara ilmu yang kita gapai didunia ini perlu dibarengi dengan ilmu spiritual kita. Selanjutnya yang beliau lakukan adalah melakukan tes jawab singkat kepada Mahasiswanya untuk mengetahui sejauh mana individu-individu dari mahasiswa tersebut telah membaca elegi beliau. Pembelajaran pun dilakukan dengan bertanya dan bertanya, mengapa demikian karena sebenar-benar filsafat adalah dengan bertanya. Ketika seorang individu bertanya maka menunjukkan bahwa individu tersebut hidup dan nyata, seperti yang dikemukakan oleh Rene Descartes, bahwa ia menganggap apa yang terjadi dalam dirinya adalah mimpi, dan dalam dirinya ia bertanya apakah ini nyata? Ketika ia bertanya pada dirinya sendiri, maka ia tersadar bahwa pertanyaannya itu adalah sebagau yang nyata. Sebagai individupun kita harus dapat bertanya agar kehidupan yang kita jalani bukan hanya sekedar kehidupan mimpi karena mimpi dan kenyataan selalu terjadi kontradiksi didalamnya. Karena tidak semua kenyataan akan seindah mimpi.
Bertanya merupakan salah satu unsur yang menunjukkan kehidupan sebagai seorang individu yang ingin mengetahui dan mengembangkan ilmu yang ingin dicapai, dan bertanyapun merupakan suatu proses berhermenetika. Hermenetika dalam budaya barat, sedangkan menurut budaya Indonesia adalah Silahturahim. Bertanyanya Individu satu kepada Individu lain merupakan suatu proses silahturahim antar sesama sehingga dapat menimbulkan suatu proses persaudaraan antar sesama. Bertanya dalam filsafat mengandung arti Intensif dan Ekstensif, dimana kita tidak dapat mereduksi pertanyaan itu sesuai dengan pola pikir kita sebagai subyek. Karena seperti yang pernah dikemukakan oleh Pak Marsigit dalam elegi beliau 3 + 5 = 8, hal ini belum tentu benar ketika kita berpikir secara intensif dan ekstensif. Karena dalam pemikiran intensif dan ekstensif kita dapat mengandaikan pertanyaan yang diajukan sebagai suatu obyek seperti topi, baju, celana, dasi dst. Sehingga 3 topi + 5 baju ≠ 8 topi. Proses pemikiran ini merupakan olah pikir dalam filsafat karena dalam filsafat mereduksi yang ada maupun yang mungkin ada dapat menjadikan seseorang terjebak kedalam kegelapan yang dapat menjadikannya sebagai mitos. Sedangkan mitos sendiri itu berasal dari hati yang tidak bersih dan pemikiran yang kacau sehingga dapat terpengaruh oleh godaan-godaan syaitan. Hal yang perlu dilakukan setiap individu untuk mnegatasi mitos adalah berpikir kritis dan membersihkan hati dari gangguan-gangguan stigma yang berasal dari dalam dan luar diri.
Kemampuan seorang individu dalam berfilsafat berbeda-beda, ini dikarenakan kapasitas dari apa yang dibaca juga berbeda. Maka ketika kita hendak ingin berfilsafat maka yang kita lakukan adalah dengan membaca. Karena sebenar-benar filsafat adalah membaca. Membaca dalam artian ini bukan untuk mengetahui kebenaran dan kesalahan dari apa yang kita baca melainkan untuk memperoleh pengetahuan yang terkandung didalamnya. Karena dalam filsafat tidak mengenal kebenaran dan kesalahan, benar dan salah dalam filsafat itu terpengaruh oleh subyek yang mempengaruhi obyek yang ada.
Obyek dalam filsafat sangatlah beragam, misalnya dalam pembelajaran matematika kita dapat menjadikan obyek yang ada sebagai materi-materi yang ada di matematika. Akan tetapi untuk merumuskan matematika itu sendiri, menurut Immanuel Kant dibutuhkan Sintesis a priori yang berasal dari Intuisi. Intuisi inilah yang menjadikan kita mampu untuk menggambarkan pembelajaran dalam matematika secara pasti. Walaupun dalam filsafat kepastian pula tidak ada, karena pasti adalah mitos, sedangkan pengetahuan matematika dalam diri manusia itu tidaklah pasti dalam kepastiannya, dan pasti dalam ketidakpastiannya, maka sekali lagi itu semua tergantung dari olah pikir kita.
Sehingga apabila kita ingin berfilsafat maka yang kita lakukan adalah dengan membaca, membaca dan membaca agar dari proses bacaan itu kita dapat bertanya. Dalam hal bertanya pun yang seharusnya kita lakukan adalah selalu berpikir intensif dan ekstensif agar tidak terjadi proses reduksi didalamnya, karena reduksi dapat menjadikan kita sebagai mitos yang terjebak dalam ruang yang gelap.
Filsafat dalam individu saya pada hakekatnya memiliki 2 asumsi yaitu: kedewasaan dan bebas dalam berpikir. Dikatakan sebagai suatu kedewasaan apabila memiliki kesadaran dan dapat berpikir serta bertindak secara independen. Contoh pengalaman pak Marsigitk diInggris ketika  mengunjungi sebuah SD, di pintu gerbang  ada siswa kelas 2 SD yang menyambut dan menanyakan maksud kedatangan dan disuruh masuk dan  memanggil kepala sekolah, ini merupakan contoh kedewasaan karena ia sadar akan lingkungan dan mampu mencari solusi tentang lingkungan.Karena di Indonesia sisi kedewasaan masih belum  nampak karena dipengaruhi struktur masyarakat yang heterogen dan juga  sisa-sisa peninggalan nenek moyang karena budaya bangsa Indonesia dibayangi rasa takut, diwarnai oleh rasa dikuasai sehingga kita hidup dalam ketakutan dan ketika yang menakuti itu menghilang maka kita kehilangan orientasi dan tidak tahu untuk melakukan apa-apa. Dan kedua dikatakan bebas dalam berpikir apabila kita sebagai seseorang yang belajar dalam filsafat kita tidak terkekang dalam materi yang diajarkan oleh Dosen melainkan kita dapat mengembarakan pola pikir kita sehingga dari hasil pengembaraan itu kita dapat menentukan apa arti sebenarnya dalam kita berfilsafat.
Dalam pembelajaran filsafat pun bukan hanya unsur-unsur keduniawian saja yang dikaji mendalam, akan tetapi filsafat juga membahas hal-hal metafisik yang berarti hal-hal yang tidak terlihat pada pandangan mata tetapi hal tersebut ada pada diri kita dan termasuk unsur diri kita pula. Kemampuan penganalisaan dalam filsafat ini ada karena dalam pembelajaran filsafat tidak terikat oleh ruang dan waktu yang ada, sehingga ketika unsur tersebut terjadi maka filsafat mampu menjelaskannya sesuai dengan olah piker dari masing-masing individu yang mendapatinya.
Seperti yang saya paparkan diatas, tentang bahwa dalam belajar filsafat adalah dengan bertanya. Disini pula saya akan mencoba memaparkan beberapa pertanyaan beserta jawaban yang dalam pembelajaran filsafat yang dilakukan oleh mahasiswa Program Pascasarjana Pendidikan Matematika Kelas B pada perkuliahan Filsafat Ilmu oleh Prof. Marsigit yang dilaksanakan tiap hari Senin jam 15.30-17.10 di Gedung Baru Pascasarjana Ruang R.1.13
Mengapa dalam belajar Filsafat harus ada unsur spiritual?
Filsafat itu diriku, dirimu dan diri mereka dari berbagai agama semua bisa berfilsafat. Hal yang berbahaya adalah ketika kita belajar berfilsafat kemudian belajar dengan orang kafir dapat menyebabkan kita menggadaikan iman dan takwa kita. Maka sebelum berfilsafat harus memperkokoh keimanan masing-masing, sehingga ketika orang beriman berfilsafat maka akan kokoh imannya.

Apa kriteria atau tanda untuk mengetahui bahwa kita sedang berfilsafat?
Orangnya berstruktur berhirarki, yang dipikirkan berstruktrur dan berhirarki. Sifat orang tersebut berstruktur berhirarki secara otomatis maka filsafatnya berstruktur berhirarki. Berfilsafat adalah berfikir yang refleksif, contohnya memikirkan pikiran, misalnya bisa menjawab pertanyaan mengapa tatapi tidak cukup dengan itu.
Bagaimana Kedudukan antara filsafat dan Ilmu pengetahuan?
Ilmu pengetahuan sudah terstruktur, yang tesusun dari pengetahuan-pengetahuan yang ada. Filsafat itu berdimensi, filsafat sebagai pengetahuan, filsafat sebagai ilmu, filsafat sebagai landasan, filsafat sebagai spiritual dan seterusnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa Ilmu pengetahuan berarti filsafat itu sendiri dan diri filsafat pun adalah ilmu pengetahuan.

Bagaimana Filsafat memandang konsep keadilan?
Adil dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Adil itu ontologisnya. Ontologis artinya sudah tidak bisa terbantah lagi. Kamu tidak pernah adil terhadap tengku mu (belakang kepalamu). Karena kamu tidak pernah mau menengok kebelakang pada saat kamu menghadap kedepan, kecuali dengan menggunakan cermin 3 dimensi. Selama ini kita hanya melihat bagian depan saja. Berarti kita tidak adil terhadap dunia. Dunia punya hak yang sama untuk kita lihat. Tapi kita tidak mampu melihatnya. Jadi manusia tidak mampu adil terhadap dirinya sendiri, maka dari itulah manusia bisa hidup. Manusia itu tidak sempurna. Itu ontologisnya. Epistomologisnya adalah metodenya, sebetulnya epistomologi itu sumber-sumber filsafat keadilan, kalau bicara sumber-sumbernya siapa yang bisa adil. Jadi konsep keadilan seperti itu adil sesuai fungsi peran dan sebagainya. Filsafat disamping epistomologi dan ontologi, sumber-sumber pembenarannya dan macam-macam keadilan. Tapi  juga etik dan estetika. Antara adil dan kebenarannya, antara benar dan keadilannnya. Serta adil dan kepantasannya, pantas dan keadilannya. Secara filsafat seperti itu, secara ontologisnya seperti itu. Jadi manusia justru tidak adil kepada dirinya sendiri.
Kenapa pemikir-pemikir filsafat itu condong lahir di barat, tidak ada yang dari timur?
Barat itu karena budaya menulis ada dibarat, sehingga ada dokumennya , ada bukunya. Kedua , barat itu menguasai dunia,maka siapa yang menguasai dunia itulah kebenaran. Didalam  ekonomi yang punya banyak modal  itu lah yang berkuasa. Walaupun mereka salah dianggap benar. Karena barat itu berkuasa,menguasai timur,mempunyai karya tulis maka dianggap benar.
Apakah setiap kegiatan berpikir itu berfilsafat?
Filsafat yang ada dan mungkin ada. Orang barat mendefinisikan filsafat sebagai pola piker. Sedangkan untuk orang timur tidak cukup hanya dengan pola piker. Karena kita tidak mungkin ketemu sama Tuhan kalau hanya dipikir saja. Di timur ada ontology gerak, di barat tidak ada. Di timur tidak hanya sekedar piker, tetapi olah hati, olah piker dan bijaksana. Bijaksana orang timur beda. Bijaksana orang barat mencari jalan terus menerus. Bijaksana orang timur itu memberi. Orang bijaksana itu orang yang berilmu.


Bagaimana konsep siap menurut filsafat?
Siap menurut filsafat itu berarti refleksi diri untuk kedepannya. Ketika diturunkan maka menjadi psikologi dalam komunikasi, persiapan adalah komunikasi diri internal, sama halnya ketika orang mau menikah maka internalnya adalah sudah membayangkan calon istri atau calon suaminya supaya jangan terkejut, ketika terkejut berarti tidak punya persiapan, ketika diturunkan lagi maka menjadi redines. Kesiapan juga mengandung unsur timeline itu artinya berjalannya potensi, jadi kesiapan itu berhubungan dengan hermenetika dan kesiapan itu artinya tetap dan berinti, dan kesiapan pun dalam keadaan berjalan dan bergoyang-goyang. Sebenar-benar kesiapan adalah bergoyang-goyang dan berhermenetika, ketika terjadi pertanyaan kamu sudah siap? Dan terjawab saya sudah siap maka itu adalah mitos karena tidak ada yang siap dalam filsafat, yang benar adalah sedang bersiap-siap dan itu tidak ada akhirnya, karena akhir juga adalah mitos. Sebenar-benar akhir adalah akhir absolut dan itu adalah dogma agama.

Bagaimana pengaruh filsafat terhadap perkembangan teknologi?
Kita dapat kaitkan dengan cerita tentang resigutawa. Resi yang maha sakti, yang dimana kata-kata bisa menjadi kenyataan, yang bias menyatukan langit dan buminya. Resigutawa mempunyai istri yang sangat cantik namanya Dewi Hindrarti, hingga Dewa kepincut saking cantiknya istrinya resigutawa. Dan diantara para Dewa tersebut mempunya kukumanik astagina. Sampai-sampai sang Dewi tertarik dengan kukumanik astagina tersebut hingga dia melupakan segalanya, akhirnya suaminya bertanya, wahai istriku engkau sedang bermain-main apa? Hingga Dewi Hindrarti terdiam. Sehingga suaminya mengutuk Dewi Hindrarti menjadi patung. Dan diambilnya kukumanik astagina tersebut kemudian di lempar ke bengawan, dan anaknya yang tiga orang berlarian mengejar kukumanik astagina hingga tercebur ke air. 2 anaknya yang bernama yang bernama Guarso dan Guarsi berubah wujud menjadi Sugliwa dan Subali, sedangkan anak perempuannya yang bernama yang bernama Anjani berubah menjadi Kera. Sehingga pelajaran yang kita dapatkan ketika kita mempunya teknologi baru maka kita bias saja melupakan segalanya saking asyik dengan teknologi yang kita miliki. Ketika dikaitkan pada masyarakat kontemporer yang bertujuan mempatungnisasi masyarakat dan memasyaraktkan patung, maka itu semua telah tercapai, ketika kita mempunyai teknologi tapi kita tidak dapat menggunakan secara bijaksana.

Bagaimana konsep pengabdian dalam filsafat?
Apapun dalam filsafat itu adalah struktur berdimensi didalam pikiran.dan pikiran itu pintu gerbang menuju dirimu masing-masing. Namun itu tidak cukup.Hati juga merupakan pintu gerbang menuju hidupmu masing-masing.Maka baik buruk dunia tergantung hatimu.Maka dunia bergantung bagaaimana pikiran dan hatimu.Dia itu bestruktur yaitu semua yang ada dan mungkin ada itu.Yang ada itu genus yang paling sederhana. Pun berstruktur, strukturnya meliputi formal dan substant (isi). Maka jika ditanyakan konsep pengabdian dalam filsafat maka yang bertanya berstruktur hirarki dan yang ditanyakan berstruktur hirarki.Pengabdian berstrukturr hirarki. Agama juga berstruktur hirarki maka pengabdian yang paling sederhana, rendah dan apa pengabdian yang paling tinggi. Yang paling rendah genus, genus potensinya, potensi itu cikal bakal atau gatra, yaitu gatra takdir dan gatra ikhtiar. Maka abdi itu gatra takdir dan gatra pengabdian yang lain meliputi sifat manusia. Pengabdian sebagai keadaan/sifat manusia punya gatra, misalnya seorang kyai, terlahir itu sudah membawa geuns didalam selnya.Potensi bawaan sebenarnya bisa kita persiapkan mulai dari sekarang untuk mempersiapkan genus yang potensial atau genetika.Genetika yang diteliti orang itu yang diam, sedangkan saya bisa mempengaruhi perilaku ketrunan saya adalah genetika yang berjalan. Sehingga kalau anda menjadi kyai hebat ada kemungkinan anak,  cucumu atau turunanmu yang lainnya menjadi kyai. Maka pengabdian juga begitu.Mengabdi itu sifat keadaan obyek terhadap subyeknya.Mengabdi itu istilah psikologi dan sosiologi. Dalaam filsafat abdi itu sifat yang satu ketemu sifat yang lain. Kadaan itu digambarkan etik dan estetika, kurannya etik dan estika. Maka filsafat itu hakikat kebenaran keindahan dan dimix, hakikatnya yang benar itu indah dan yang indah itu benar dst. Naik menjadi spiritual missal doamu, ibadahmu dll.Sholat bisa dimana saja, tapi Jika masuk kedalam keindahan itu subyektif.Jadi pengabdian itu demikian, kalau mau ditelusuri ya kaitannya dengan sosiologi antropologi.

Bagaimana kedudukan ilmu pengetahuan dalam filsafat?
Sejak awal filsafat dan sampai akhir jaman nanti, itu tentang pengetahuan dan ilmu pengeatahuan karna olah pikir.Dalam filsafat ada dua macam persoalan, dan dua persoalan ini tidak pernah tercapai, bisanya hanya berusaha mencapai. Yang pertama adalah menjelaskan apa yang engkau ketahui yang ada didalam pikiranmu. Contoh didalam pikiran saya ada istri saya. Saya tidak akan mampu menjelaskan siapa istri saya. Kalau aku mampu menjelaskan sejak awal zaman sampai sekarang, sebelum aku mengakhiri penjelasan,aku akan berubah menjadi aku yang mati. aku yang mati itu belum tau saya istri saya seperti apa, apalagi besok. Jadi sebenar-benar manusia tidak ada yang mampu menjelaskan apa engkau pikirkan, hanya berusaha saja. Caranya reduksi, menyebut beberapa sifat kunci dalam batas tertentu dimana seseorang dengan orang lain dalam pengetahuan yang sama. Engkau tidak mampu menjelaskan pulau Lombok itu.Tapi sampai batas disitu saya terima, tapi apakah seperti itu Lombok, tidak.Masih banyak sekali yang bisa diungkap. Tidak akan mampu semuanya menjelaskan yang ada didalam pikiranmu, karna kenapa engkau bisa menggambar Lombok seperti itu kara engkau ada. Ada pulau Lombok didalam pikiranmu, adanya melalui rasio dan pengalaman berhermeneutika.  Persoalan yang kedua adalah mengetahui apa yang diluar pikiran saya. Yang diluar pikiran saya adalah pulau Lombok.Pulau Lombok itu masih berada diluar pikiran saya untuk level ini, tetapi kenapa saya bisa ngomong pulau Lombok karna pulau Lombok sudah ada dipikiram saya.Maka pualu Lombok itu ada yang masih berada diluar pikiran saya ada yang sudah berada didalam pikiran saya.Yang masih berada diluar pikiran saya itu yang masih mungkin ada.Bandara praya saya belum pernah lihat, itu masih diluar pikiran saya.Begitu aku mendarat maka terlihatlah bandara itu.Maka sebenar-benar hidup adalah mengadakan yang mungkin ada.Maka kerjakanlah hidup itu.Hijrahlah.Kita perlu hijrah.Hijrah itu untuk mendapatkan pengetahuan baru untuk menjadi hebat, hebat harus sesuai dengan ruang dan waktunya.Petinju memukul ka’o lawan itu hebat, kalau engkau memukul ka’o temanmu itu bukan hebat.Maka pikiran manusia bermacam-macam perkembangannya dari awal zaman sampai akhir zaman.Jadi kedudukan ilmu pengetahuan itu dari awal sampai akhir.Jadi sebenar-benar ilmu pengetahuan itu adalah epistemology atau filsafat ilmu.Tapi filsafat ilmu tidak ada apa-apanya kalau tidak ada ontology dan aksiologinya artinya satu kesatuan. Seperti segelas teh itu tidak akan bermakna kalau tidak ada gelasnya.
Apakah filsafat mempunyai batas?
Filsafat mempunyai batas dan tidak ada batas sekaligus, menurut immanuel Kant didalam filsafat terdapat awal dan akhir, dimana awal dan akhir dapat terjadi sekaligus, sehingga kita tarik lagi ada awal dan tidak ada awal, dan juga ada akhir dan tidak ada akhir. Manusia tidak akan dapat menemukan kapan berhenti dan kapan memulai karena sebenar-benar manusia itu terbatas. Manusia tidak sempurna dalam kesempurnaan dan sempurna dalam ketidak sempurnaan. Batas dari seorang manusia itu tidak dapat memikirkan apa yang tidak ia pikirkan.




Komentar