Refleksi Filsafat Ilmu Pertemuan ke-4
Refleksi Filsafat Ilmu
Pertemuan ke-4
Bissmillah
Assalamu’alaikum, Wr. Wb
Berikut adalah
refleksi dari pembelajaran Filsafat Ilmu oleh Prof. Dr. Marsigit, MA pada
pertemuan ke-4 di Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta ruangan
R.1.13 jam 15.30 – 17.10 WIB pada
tanggal 3 Oktober 2016
1.
Bagaimana mengenai Hipnotis dilihat dari sisi
filsafat?
Hipnotis
tidak ada yang bisa menjawab, Hipnotis kita bisa samakan dengan pelaku kuda
lumping yang merupakan gejala jiwa yang dipengaruhi oleh intuisi tertentu, satu
intusi dapat menutup intuisi yang lain. Manusia mempunyai bermilyar-milyar
intuisi meliputi yang ada maupun yang mungkin ada, missal intuisi kertas,
intuisi kertas, intuisi ruang, intuisi waktu dan lain sebagainya. Prinsipnya hipnotis atau kuda lumping itu
merupakan suatu intuisi yang dimunculkan satu dan di dominasikan. Intuisi sangatlah
penting dalam kehidupan karena intuisi adalah pengalaman, intuisi antara orang
yang satu berbeda dengan orang yang lain
2.
Apakah bapak setuju dengan metode saintifik yang
digunakan dalam K13?
Filsafat bukan mengenai setuju dengan tidak setuju,
filsafat itu seberapa jauh engkau menjelaskannya, maka sebenar-benar filsafat
adalah penjelasan itu dan ketika engkau tetap bersikukuh maka itu adalah mitos.
Sedangkan fanatic maka akan terjebak didalam ruang dan waktu yang gelap menurut
filsafat, karena metode saintifik merupakan salah satu dari sekian banyak
metode yang ada.
3.
Bagaimana kriteria seseorang dikatakan berhasil
dalam menuntut ilmu?
Setiap saat orang berhasil, setiap saat orang
mengalami kegagalan, dia hanya tidak merasa, kalau ia merasa berhasil maka ia
merugi separuh dunia karena dia tidak menyadari kegagalannya begitupun
sebaliknya. Filsafat itu seimbang sedalam-dalamya (intensif) dan seluas-luasnya
(ekstensif).
4.
Bagaimana konsep siap menurut filsafat?
Siap menurut filsafat itu berarti refleksi diri
untuk kedepannya. Ketika diturunkan maka menjadi psikologi dalam komunikasi,
persiapan adalah komunikasi diri internal, sama halnya ketika orang mau menikah
maka internalnya adalah sudah membayangkan calon istri atau calon suaminya
supaya jangan terkejut, ketika terkejut berarti tidak punya persiapan, ketika
diturunkan lagi maka menjadi redines. Kesiapan juga mengandung unsur timeline
itu artinya berjalannya potensi, jadi kesiapan itu berhubungan dengan
hermenetika dan kesiapan itu artinya tetap dan berinti, dan kesiapan pun dalam
keadaan berjalan dan bergoyang-goyang. Sebenar-benar kesiapan adalah bergoyang-goyang
dan berhermenetika, ketika terjadi pertanyaan kamu sudah siap? Dan terjawab
saya sudah siap maka itu adalah mitos karena tidak ada yang siap dalam
filsafat, yang benar adalah sedang bersiap-siap dan itu tidak ada akhirnya, karena
akhir juga adalah mitos. Sebenar-benar akhir adalah akhir absolut dan itu
adalah dogma agama.
5.
Bagaimana filsuf memandang surga dan neraka?
Filsafat itu hakekat, etik dan estetika, yaitu
benar, baik dan indah. Ketika dikombinasikan maka ketiganya mempunyai hubungan
untuk dieksperimenkan. Contohnya itu etik dan estetika, etik itu baik buruk
estetika adalah keidahan. Epistemology baik buruk sedangkan ontology adalah
hakekatnya. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah maka kita terjebak
dalam dunia yang gelap. Benar dan salah terjadi di dalam pikiran yang berada
dalam ruang dan waktu. Benar dan salah merupakan domain pikiran sedangkan surga
dan neraka merupakan domain hati.
6.
Bagaimana pengaruh filsafat terhadap perkembangan
teknologi?
Kita dapat kaitkan dengan cerita tentang resigutawa.
Resi yang maha sakti, yang dimana kata-kata bisa menjadi kenyataan, yang bias menyatukan
langit dan buminya. Resigutawa mempunyai istri yang sangat cantik namanya Dewi
Hindrarti, hingga Dewa kepincut saking cantiknya istrinya resigutawa. Dan diantara
para Dewa tersebut mempunya kukumanik astagina. Sampai-sampai sang Dewi
tertarik dengan kukumanik astagina tersebut hingga dia melupakan segalanya,
akhirnya suaminya bertanya, wahai istriku engkau sedang bermain-main apa? Hingga
Dewi Hindrarti terdiam. Sehingga suaminya mengutuk Dewi Hindrarti menjadi
patung. Dan diambilnya kukumanik astagina tersebut kemudian di lempar ke bengawan,
dan anaknya yang tiga orang berlarian mengejar kukumanik astagina hingga
tercebur ke air. 2 anaknya yang bernama yang bernama Guarso dan Guarsi berubah
wujud menjadi Sugliwa dan Subali, sedangkan anak perempuannya yang bernama yang
bernama Anjani berubah menjadi Kera. Sehingga pelajaran yang kita dapatkan
ketika kita mempunya teknologi baru maka kita bias saja melupakan segalanya
saking asyik dengan teknologi yang kita miliki. Ketika dikaitkan pada
masyarakat kontemporer yang bertujuan mempatungnisasi masyarakat dan
memasyaraktkan patung, maka itu semua telah tercapai, ketika kita mempunyai
teknologi tapi kita tidak dapat menggunakan secara bijaksana.
Komentar
Posting Komentar